Tampilkan postingan dengan label Fakta unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta unik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Maret 2017
Sejarah Planet
Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, pengertian istilah “planet” berubah dari “sesuatu” yang bergerak melintasi langit (relatif terhadap latar belakang bintang-bintang yang “tetap”), menjadi benda yang bergerak mengelilingi Bumi. Ketika model heliosentrik mulai mendominasi pada abad ke-16, planet mulai diterima sebagai “sesuatu” yang mengorbit Matahari, dan Bumi hanyalah sebuah planet. Hingga pertengahan abad ke-19, semua obyek apa pun yang ditemukan mengitari Matahari didaftarkan sebagai planet, dan jumlah “planet” menjadi bertambah dengan cepat di penghujung abad itu.
Selama 1800-an, astronom mulai menyadari bahwa banyak penemuan terbaru tidak mirip dengan planet-planet tradisional. Obyek-obyek seperti Ceres, Pallas dan Vesta, yang telah diklasifikasikan sebagai planet hingga hampir setengah abad, kemudian diklasifikan dengan nama baru “asteroid”. Pada titik ini, ketiadaan definisi formal membuat “planet” dipahami sebagai benda ‘besar’ yang mengorbit Matahari. Tidak ada keperluan untuk menetapkan batas-batas definisi karena ukuran antara asteroid dan planet begitu jauh berbeda, dan banjir penemuan baru tampaknya telah berakhir.
Namun pada abad ke-20, Pluto ditemukan. Setelah pengamatan-pengamatan awal mengarahkan pada dugaan bahwa Pluto berukuran lebih besar dari Bumi, IAU (yang baru saja dibentuk) menerima obyek tersebut sebagai planet. Pemantauan lebih jauh menemukan bahwa obyek tersebut ternyata jauh lebih kecil dari dugaan semula, tetapi karena masih lebih besar daripada semua asteroid yang diketahui, dan tampaknya tidak eksis dalam populasi yang besar, IAU tetap mempertahankan statusnya selama kira-kira 70 tahun.
Pada 1990-an dan awal 2000-an, terjadi banjir penemuan obyek-obyek sejenis Pluto di daerah yang relatif sama. Seperti Ceres dan asteroid-asteroid pada masa sebelumnya, Pluto ditemukan hanya sebagai benda kecil dalam sebuah populasi yang berjumlah ribuan. Semakin banyak astronom yang meminta agar Pluto didefinisi ulang sebagai sebuah planet seiring bertambahnya penemuan obyek-obyek sejenis. Penemuan Eris, sebuah obyek yang lebih masif daripada Pluto, dipublikasikan secara luas sebagai planet kesepuluh, membuat hal ini semakin mengemuka. Akhirnya pada 24 Agustus 2006, berdasarkan pemungutan suara, IAU membuat definisi planet. Jumlah planet dalam Tata Surya berkurang menjadi 8 benda besar yang berhasil “membersihkan lingkungannya” (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus), dan sebuah kelas baru diciptakan, yaitu planet katai, yang pada awalnya terdiri dari tiga obyek, Ceres, Pluto dan Eris.
[sunting] Sejarah nama-nama planet
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet (lihat tabel nama planet di bawah). Pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani memberi nama Stilbon (cemerlang) untuk Planet Merkurius, Pyoroeis (berapi) untuk Mars, Phaethon (berkilau) untuk Jupiter, Phainon (Bersinar) untuk Saturnus. Khusus planet Venus memiliki dua nama yaitu Hesperos (bintang sore) dan Phosphoros (pembawa cahaya). Hal ini terjadi karena dahulu planet Venus yang muncul di pagi dan di sore hari dianggap sebagai dua objek yang berbeda.
Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memperkenalkan nama-nama dewa dalam mitologi untuk planet-planet ini. Hermes menjadi nama untuk Merkurius, Ares untuk Mars, Zeus untuk Jupiter, Kronos untuk Saturnus dan Aphrodite untuk Venus.
Pada masa selanjutnya di mana kebudayaan Romawi menjadi lebih berjaya dibanding Yunani, semua nama planet dialihkan menjadi nama-nama dewa mereka. Kebetulan dewa-dewa dalam mitologi Yunani mempunyai padanan dalam mitologi Romawi sehingga planet-planet tersebut dinamai dengan nama yang kita kenal sekarang.
Hingga masa sekarang, tradisi penamaan planet menggunakan nama dewa dalam mitologi Romawi masih berlanjut. Namun demikian ketika planet ke-7 ditemukan, planet ini diberi nama Uranus yang merupakan nama dewa Yunani. Dinamakan Uranus karena Uranus adalah ayah dari |Kronos (Saturnus). Mitologi Romawi sendiri tidak memiliki padanan untuk dewa Uranus. Planet ke-8 diberi nama Neptunus, dewa laut dalam mitologi Romawi.
Sejarah Huruf Alfabet
Istilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini
terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata
beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua
kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b
(beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan
berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis,
akan tetapi malah sebaliknya.
Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu.
Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu.
Daerah yang Mula-Mula Menggunakan Sistem Alphabet.
Bangsa Semit sebagai yang pertama menggunakan sistem alphabet atau
abjad, agaknya sudah disepakati oleh para sarjana. Namun, daerah mana
dari daerah-daerah yang didiami oleh suku bangsa Semit yang lebih dahulu
menggunakannya, masih saja terdapat perbedaan-perbedaan pendapat di
antara mereka. Perbedaan pendapat ini makin terlihat setelah ditemukan
beberapa bukti tertulis di kawasan Sarabit al-Khadim, yaitu suatu daerah
yang terletak antara Fustat dan Adhruh, (bahagian timur Qulzum
sekarang).
Inskripsi Sarabit al-Khadim ini oleh kalangan ahli, disimpulkan sebagai
inskripsi tertua yang menggunakan sistem alphabeth (abjad). Diperkirakan
bahwa inskripsi ini telah ditulis sekitar tahun 1850 sM.(Shiddiqi,1983)
oleh orang-orang Sinai yang bekerja di tambang-tambang batu permata
pyrus.
Penemuan inskripsi ini tentunya adalah acuan akhir yang menolak asumsi
yang selama ini telah dikemukakan oleh para ahli bahwa orang-orang
Phoenicialah yang pertama kali mentransfer Hierogliph menjadi tulisan
alphebetis. Inskripsi Sarabit al-Khadim ternyata lebih tua beberapa abad
dibanding dengan inskripsi Ahiram Yubail yang ditemukan oleh Monte di
daerah Gebal purba (Byblos) yang merupakan bukti tertulis pemakaian
pertama sistem alphabet oleh orang-orang Phoenicia. Dengan penemuan baru
ini para ahli akhirnya dapat meyakini dengan tepat "jembatan" yang
menghubungkan antara Hierogliph Mesir dengan alphabet Phoenicia. Karena
selama ini mereka diragukan oleh perbedaan yang terlalu besar antara
bentuk tulisan Mesir itu dengan bentuk tulisan yang digunakan oleh
orang-orang Phoenicia, sehingga sangat sulit memastikan bahwa
orang-orang Phoenicia yang pertama kali menggubah huruf-huruf Mesir ke
dalam sistem alphabet.
Kenyataan bahwa Sinai yang pertama kali menggunakan alphabet
dalam sistem penulisan mereka diperkuat pula oleh letak geografis
daerah ini, yang ternyata lebih dekat dengan Mesir serta bentuk tulisan
yang tidak terlalu menyolok perbedaannya.
Wilayah Perkembangan Sistem Alphabet
Sistem alphabet Sinai pada waktu kemudian berkembang ke beberapa
wilayah, diantaranya ke Phoenicia. Oleh orang-orang Phoenicia, sistem
penulisan Sinai ini dikembangkan sedemikian rupa. Beberapa karakter
huruf disempurnakan serta disusun atas dasar dasar bunyi yang
dilambangkan. Karena itu asumsi bahwa orang-orang Phoenicia yang pertama
menggunakan sistem alphabet dianggap beralasan sebelum ditemukannya
bukti tertulis di wilayah Sinai (inskripsi Sarabit al-Khadim seperti
telah dikemukakan terdahulu. Namun, peranan orang-orang Phoenicia dalam
menjembatani pengembangan alphabet ke beberapa kawasan Eropa memang
sukar untuk dibantah.
1. Jazirah Arab Utara, Asia Kecil dan Eropa
Dalam perkembangannya ke utara, alphabet Sinai memperoleh kemajuan yang
sangat pesat. Alphabet ini akhirnya, selian melahirkan alphabet
Phoenicia, juga telah menurunkan tulisan Ibrani dan Aramia. Dari ketiga
rumpun tulisan yang biasa disebut dengan Tulisan Semit Utara ini
berkembang secara lebih luas lagi dan melahirkan tulisan-tulisan besar
yang digunakan hingga saat ini.
Tulisan Phoenicia dibawa ke Yunani oleh Cadmus, dan dari sini berkembang
menjadi tulisan Etroska yang merupakan cikal bakal pertumbuhan tulisan
Romawi Barat yang dipakai di bahagian terbesar Eropa pada saat itu.
Pengembangan lain dari tulisan Yunani telah pula dilakukan oleh salah
seorang uskup Konstantinopel, Cyrillius dan Methodus. Tulisan ini
mendapatkan perkembangan seiring dengan perkembangan agama Kristen di
Slavia, Rusia, Ukeraina, Serbia, dan Bulgaria. Diketahui bahwa tulisan
yang berkembang di Slavia ini tidak semata-mata berasal dari Yunani,
akan tetapi juga memasukkan unsur-unsur tulisan Ibrani. Hal ini
disebabkan oleh adanya bunyi-bunyi Slavia yang tidak terdapat dalam
bahasa Yunani (Mario Pei,1971:81).
Dari rumpun Aramia (Aramaic) telah melahirkan tulisan Syryani, Nabthi,
Tadmury (Palmyra) dan tulisan Pahlavi yang merupakan tulisan asli bangsa
Persia. Di bahagian lain alphabet Sinai telah pula menurunkan tulisan
Devanagari kuno di India. Kita telah mengetahui bahwa banyak sekali
tulisan yang terdapat di kawasan Asia selatan dan tenggara berasal dari
tulisan Devanagari ini, karena tulisan ini berkembang seiring dengan
penyebaran agama Budha. Tulisan kuno di India. Kita telah mengetahui
bahwa banyak sekali tulisan yang terdapat di kawasan Asia selatan dan
tenggara berasal dari tulisan Devanagari ini, karena tulisan ini
berkembang seiring dengan penyebaran agama Budha. Tulisan Siryani dan
Nabthy dalam perjalanannya ke bahagian selatan jazirah Arab telah
bergabung dengan karakter tulisan yang berasal dari jazirah selatan ini,
terutama pada masa perluasan kerajaan Anbath ke hampir seluruh jazirah
Arab pada abad pertama Masehi. Penggabungan inilah yang pada akhirnya
menurunkan tulisan Arab kuno hingga menjadi tulisan Arab seperti yang
berkembang saat ini.
2. Jazirah Arab Selatan
Perjalanan alphabet Sinai ke bahagian selatan jazirah Arab telah
mengembangkan tulisan yang terdapat di kerajaan-kerajaan Arab Selatan,
seperti kerajaan Saba`, Minaiyah dan lain-lain. Hanya saja tidak
diperoleh keterangan yang pasti tentang tulisan yang digunakan oleh
masyarakat di kerajaan Arab selatan ini pada waktu sebelumnya. Beberapa
asumsi mengatakan bahwa tulisan yang digunakan masyarakat Arab pada
waktu itu berasal dari tulisan Demotic (tulisan rakyat Mesir kuno).
Setelah masuknya alphabet Sinai ke wilayah ini, barulah dikenal satu
jenis tulisan yang telah menggunakan sistem alphabet, dan banyak
persamaan bentuk dan karakter hurufnya dengan alphabet Sinai,
sebagaimana dapat diperhatikan pada tabel terdahulu. Tulisan Arab
selatan ini kemudian dikenal dengan Musnad.
Bila diperhatikan lebih jauh bentuk dan karakter lambang huruf Musnad,
maka makin kuat dugaan bahwa karakter Sinai lebih banyak mewarnai
pembentukan lambang huruf-hurufnya, dibanding dengan tulisan asli
masyarakat Arab selatan yang dianggap sudah ada itu. Kenyataan itu
agaknya juga memperkuat dugaan bahwa setidaknya Arab selatan mendapat
pengaruh dari alphabet Sinai dalam waktu yang bersamaan dengan
Phoenicia. Namun sementara ahli telah berkesimpulan lain, yaitu bahwa
alphabet Arab selatan merupakan perkembangan dari alphabet Phoenicia
yang dibawa ke wilayah ini melalui jalur perdagangan.
Perkembangan tulisan Musnad ke utara pada akhirnya bergabung dengan
tulisan-tulisan Semit utara dan melahirkan tulisan Arab kuno (Hyry).
Tulisan-tulisan Arab itu, setelah agama Islam lahir, ternyata memperoleh
perhatian khusus bagi penganutnya. Karena itu, tulisan ini akhirnya
makin berkembang dan meluas dengan pesat bahkan melampaui batas-batas
wilayah yang menggunakan bahasa Arab. Bersama Al-Qur`an, tulisan Arab
telah meluas ke berbagai bangsa dan bahasa, seperti Fula, Hausa dan
Swahili di Afrika, Melayu, Sunda dan Jawa di Indonesia, bangsa Moro di
Phillipina, Urdu dan Punjabi di India, Persia di Iran dan pelbagai
bahasa Turki di Uni Sovyet (Mario Pei,1971:81).
Dari Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dari akar alphabet Sinai
telah melahirkan dua bentuk tulisan besar yang digunakan secara luas
hingga saat ini, yaitu tulisan Romawi --yang pada akhirnya dikenal
dengan tulisan Latin--, dan tulisan Arab. Kedua bentuk tulisan ini,
kendatipun sama-sama berasal dari rumpun yang sama, yaitu Sinai, tapi
dalam perkembangannya terdapat perbedaan-perbedaan yang prinsipil pada
karakter huruf dan cara penulisan. Dalam tulisan Romawi, lambang-lambang
konsonan dan vokal memperoleh tempat yang sama pada penulisan,
sementara pada tulisan Arab --seperti juga tulisan Ibrany dan Siryani
(Semit utara)-- , lebih menonjolkan huruf (lambang) konsonan saja,
sedangkan lambang vokalnya diserahkan sepenuhnya pada pengertian
pembaca. Barulah pada perkembangan akhir (setelah Islam), lambang vokal
dicantumkan pada penulisan, akan tetapi berupa tanda-tanda khusus yang
ditempatkan di atas atau di bawah lambang konsonan. Perbedaan lainnya
ialah bahwa tulisan Arab ditulis dari kanan ke kiri, sedangkan tulisan
Romawi ditulis sebaliknya.
Sejarah Warna
Sejarah penggunaan warna diketahui sejak 1550 SM di Mesir, dimana penggunaan warna adalah bagi tujuan terapi. Bertolak dari situ penggunaan warna buka sahaja digunakan untuk menghasilkan sesebuah karya dan reka bentuk, malah digunakan sebagai perubatan dan terapi.
Pada masa ini warna mempunyai potensi dalam kehidupan harian, kita perlukan berpakaian dengan pemilihan warna yang sesuai, dirumah memilih perabot dan hiasan berkehendakkan warna yang senang dipandang, membeli kereta memilih reka bentuk dan warna yang menarik. Pendik kata segalanya kita akan menumpukan pada warna.
Dalam kehidupan kita seharian warna mempunyai peranan yang sangat penting yaitu:
1. Warna sebagai warna
2. Warna sebagai representasi alam
3. Warna sebagai tanda/makna/lambang/simbol.
- Warna sebagai warna memberi maksud bahawa penglihatan warna pada sesuatu yang dijadikan oleh Allah itu adalah seadanya. Warna daun Hijau, warna langit biru, warna awan putih.
- Warna sebagai represtasi alam bermaskud penggunaan warna dikaitkan dengan alam sekitar. Misalnya warna hijau dikaitkan dengan kesuburan tumbuh-tumbuhan seperti daun, rumput dan pokok. Warna Biru dikaitkan dengan keluasan dan kejauhan seperi langit, gunung-ganang. Kebiasaan pengkarya naturalis dan realis menggunakan idea ini.
-
Warna sebagai tanda/makna/lambang/ simbol menjurus pada makna dan
konsep warna tersebut. Dalam warna dan budaya masyarakat Melayu banyak
tanda-tanda warna antara kuning langsat, kelabu tahi anjing dan
sebagainya. warna juga dikaitkan dengan makna atau simbol tertentu
misalnya:
- warna merah: marah, ghairah, darah, berani, cinta yang membara
- warna Putih: suci, tidak berdosa, setia, alim
- warna Kuning: kecewa, pengecut, sakit hati, duka, mistri
- warna Biru: keceahan, perpaduan, keagungan, keriangan
- warna Hijau: kesuburan, kedamaian, kerukunan, cemburu, sejuk
- warna Hitam: Kematian, kecewa, kegelaapan dan lain-lain
Kamis, 26 Januari 2017
Biodata dan Fakta Unik Personil 5 Second Of Summer
5 Second Of Summer
Siapa sih remaja cewek yang gak suka sama band yang personilnya kece badai? Pastinya suka dan idaman banget lah ya:) Kali ini aku akan bagi- bagi info nih tentang biodata 4 cowok ganteng asal Australia. Pasti tau lah ya siapa sih mereka itu. Ya, mereka adalah personil 5SOS/ 5 Second Of Summer. Siapa aja mereka? dan tanggal berapa sih mereka ulang tahun? penasaran ya? Okey, berikut nih info selengkapnya..
1. LUKE HEMMINGS
Nama : Luke Robert Hemmings
Lahir : 16 Jully,1996
Zodiak : Cancer
Fakta unik Luke Hemmings:
1. hewan favorit luke itu penguin
2. mama nya luke itu guru matematika lohh *ajarin aku matematika dong tante :3
3. angka favorit ny itu 7
4. jika disuruh memilih antara pizza dan donuts maka luke akan memilih pizza
5. Luke itu member yg paling tinggi di 5SOS
6. warna favorit Luke itu biru
7. artis favorit nya itu Mila Kunis
8. Luke itu nggak pernah nonton film Titanic
2. CALUM HOOD
Nama : Calum Thomas Hood
Lahir : 25 Januari,1996
Warna Favorit : Biru Muda
Fakta unik Calum Hood:
1. Calum itu kutu buku lohh guys
2. makanan favorit nya itu pizza
3. film favorit nya waktu maa kecil itu Monster Inc
4. the boys bilang Calum itu punya the best body di 5SOS
5. artis favorit nya itu Katy Perry
6. buah favorit nya itu apel
7. Calum bilang dia mau menjadi seorang gay tapi asalkan pasangan gay nya itu Kellin Quinn
3. ASHTON IRWIN
Nama : Ashton Fletcher Irwin
Lahir : 7 Jully,1994
Warna Favorit : Merah
Fakta unik Ashton:
1. Ashton itu blesteran australia dan america
2. artis favorit nya itu Hayley William
3. band favorit nya itu Coldplay
4. lucky number nya itu 18
5. film favorit nya itu Pursuit Of Happiness
6. acara favorit nya itu Family Guy
4. MICHAEL CLIFFORD
Nama : Michael Gordon Clifford
Lahir : 20 November,1995
Warna Favorit : Biru
Fakta Unik Michael:
1. Michael nggak suka sama nama tengah nya
2. band favorit nya itu All Time Low
3. cartoon favorit nya itu Dragon Ball Z
4. film favorit nya Camp Rock
5. celebrity favorit nya itu Camilla Cabello
6. Michael bilang dia nggak bakal bisa hidup tanpa komputer
Gimana guys? Udah tau kan biodata mereka? Semoga membantu:) Thank's ya guys..
Langganan:
Postingan (Atom)







